SUBULUSSALAM, ACEH – Di tengah tantangan ekonomi dan ketimpangan sosial yang masih dirasakan banyak warga, sebuah inisiatif akar rumput hadir di Kota Subulussalam, Aceh. Dinamakan Pasar Gratis SadaKata, kegiatan ini digelar pada Sabtu, 3 Agustus 2025, dan menjadi ruang alternatif berbagi yang digerakkan oleh masyarakat, bukan institusi.
Berbeda dengan kegiatan amal konvensional, Pasar Gratis SadaKata hadir tanpa struktur formal. Tidak ada ketua, tidak ada hierarki. Gerakan ini digalang secara kolektif oleh elemen mahasiswa dan warga dari berbagai latar belakang, dengan semangat solidaritas dan perlawanan terhadap ketimpangan.
“Ini bukan sekadar kegiatan sosial, tapi juga bentuk kritik terhadap negara yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya,” ujar salah seorang relawan, yang enggan disebutkan namanya.
Semua barang dan jasa yang tersedia di Pasar Gratis ini diberikan secara cuma-cuma. Aturannya hanya satu: siapa pun boleh mengambil, dan siapa pun boleh berbagi. Barang-barang yang dibagikan meliputi pakaian bekas layak pakai, sandal, sepatu, hingga buku-buku ilmu pengetahuan.
Yang menarik, kegiatan ini juga secara terang menyatakan bahwa Pasar Gratis SadaKata terbuka untuk semua kalangan, tanpa memandang ras, agama, suku, atau pendidikan—kecuali pejabat pemerintah. Ini merupakan bentuk simbolik bahwa ruang ini adalah milik rakyat biasa, yang kerap kali berada di luar perhatian negara.
Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari warga sekitar. Banyak di antara mereka yang hadir bukan hanya untuk menerima, tetapi juga menyumbangkan barang yang mereka miliki. Di sinilah letak kekuatan Pasar Gratis SadaKata: membangun kesadaran kolektif bahwa berbagi bukanlah semata tindakan karitas, tetapi wujud keberpihakan.
Seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya solidaritas sosial, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas lain, baik di Aceh maupun daerah lain di Indonesia.
Pasar Gratis SadaKata mengingatkan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah—tanpa sponsor, tanpa komando, hanya dengan semangat gotong royong dan kepercayaan pada sesama. (SP)

































